Laporan praktikum mikrobiologi - Metode MPN

Laporan praktikum mikrobiologi - Metode MPN

Metode MPN biasanya biasanya dilakukan untuk menghitung jumlah mikroba di dalam contoh yang berbentuk cair, meskipun dapat pula digunakan untuk contoh berbentuk padat dengan terlebih dahulu membuat suspensi 1:10 dari contoh tersebut (Fardiaz, 1993).
Metode MPN digunakan medium cair di dalam tabung reaksi, dimana perhitungannya dilakukan berdasarkan jumlah tabung yang positif yaitu yang ditumbuhi oleh jasad renik setelah inkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Pengamatan tabung yang positif dapat dilihat dengan mengamati timbulnya kekeruhan atau terbentuknya gas di dalam tabung kecil (tabung Durham) yang diletakkan pada posisi terbalik, yaitu untuk jasad renik pembentuk gas.

Laporan praktikum mikrobiologi

Dalam metode MPN, pengenceran harus dilakukan lebih tinggi daripada pengenceran dalam hitungan cawan, sehingga beberapa tabung yang berisi medium cair yang diinokulasikan dengan larutan hasil pengenceran tersebut mengandung satu sel, beberapa tabung yang lainnya mengandung lebih dari satu sel atau tabung lainnya tidak mengandung sel. Dengan demikian setelah inkubasi, diharapkan terjadi pertumbuhan pada beberapa tabung yang dinyatakan sebagai tabung positif, sedangkan tabung lainnya negatif.
Pada pengenceran pertama kesembilan tabung menghasilkan pertumbuhan positif yaitu dengan seri tabung 3-3-3 pada ukuran 10 ml, 1 ml dan 0,1 ml menghasilkan 2-1-2 tabung yang positif ditumbuhi jasad renik dan pada pengenceran kedua, kesembilan tabung menghasilkan 1-0-1 tabung yang positif ditumbuhi jasad renik.
Metode MPN dapat digunakan untuk menghitung jumlah jasad renik tertentu yang terdapat diantara campuran jasad renik lainnya. Sebagai contoh, jika digunakan Lactosa Broth, maka adanya bakteri yang dapat memfermentasi laktosa ditunjukkan dengan terbentuknya gas di dalam tabung Durham. Cara ini biasa digunakan untuk menentukan MPN koliform terhadap air atau minuman karena bakteri Coliform termasuk bakteri yang dapat menfermentasi laktosa. (Fardiaz, 1992).
Dalam metode MPN (Most Probable Number) untuk uji kualitas mikrobiologi air dalam praktikum digunakan kelompok koliform sebagai indikator. Metode MPN merupakan uji deretan tabung yang menyuburkan pertumbuhan koliform sehingga diperoleh nilai untuk menduga jumlah koliform dalam sampel yang diuji. Uji ini diawali dengan memasukkan 10 ml cairan dari sampel ke dalam lauryl tryptose broth, uji awal ini disebut uji duga (presumtive test). Dalam uji duga, setiap tabung yang menghasilkan gas dalam masa inkubasi diduga mengandung bakteri koliform. Uji dinyatakan positif bila terlihat gas dalam tabung Durham. Tabung yang memperlihatkan gas diuji lebih lanjut dengan uji peneguhan. Untuk uji peneguhan dilakukan untuk meneguhkan bahwa gas yang terbentuk disebabkan oleh kuman koliform dan bukan disebabkan oleh kerja sama beberapa spesies sehingga menghasilkan gas. Uji peneguhan menggunakan BGLB (Briliant Green Bile Lactose Broth) yang diinokulasikan dengan satu mata ose media yang memperlihatkan hasil positif pada uji duga (Lay, 1994).

Prinsip yang digunakan dalam metode MPN

MPN adalah suatu metode enumerasi mikroorganisme yang menggunakan data dari hasil pertumbuhan mikroorganisme pada medium cair spesifik dalam seri tabung yang ditanam dari sampel padat atau cair yang ditanam berdasarkan jumlah sampel atau diencerkan menurut tingkat seri tabungnya sehingga dihasilkan kisaran jumlah mikroorganisme yang diuji dalam nilai MPN/satuan volume atau massa sampel.
Contoh :
Data yang didapat adalah : 3 tabung positif dari pengenceran 1/10, 2 tabung positif dari pengenceran 1/100 dan 1 tabung positif dari pengenceran 1/1000.
Lalu dicocokkan dengan tabel, menghasilkan nilai : 150 MPN/g

Prinsip utama metode ini adalah mengencerkan sampel sampai tingkat tertentu sehingga didapatkan konsentrasi mikroorganisme yang pas/sesuai dan jika ditanam dalam tabung menghasilkaan frekensi pertumbuhan tabung positif “kadang-kadang tetapi tidak selalu”. Semakin besar jumlah sampel yang dimasukkan (semakin rendah pengenceran yang dilakukan) maka semakin “sering” tabung positif yang muncul. Semakin kecil jumlah sampel yang dimasukkan (semakin tinggi pengenceran yang dilakukan) maka semakin “jarang” tabung positif yang muncul. Jumlah sampel/pengenceran yang baik adalah yang menghasilkan tabung positif “kadang-kadang tetapi tidak selalu”. Semua tabung positif yang dihasilkan sangat tergantung dengan probabilitas sel yang terambil oleh pipet saat memasukkannya ke dalam media. Oleh karena itu homogenisasi sangat mempengaruhi metode ini. Frekuensi positif (ya) atau negatif (tidak) ini menggambarkan konsentrasi mikroorganisme pada sampel sebelum diencerkan.

Asumsi yang diterapkan dalam metode MPN adalah :
-   bakteri terdistribusi sempurna dalam sampel
-   sel bakteri terpisah-pisah secara individual, tidak dalam bentuk rantai atau kumpulan (bakteri coliform termasuk E. coli terpisah sempurna tiap selnya dan tidak membentuk rantai).
-   media yang dipilih telah sesuai untuk pertumbuhan bakteri target dalam suhu dan waktu inkubasi tertentu sehingga minimal satu sel hidup mampu menghasilkan tabung positif selama masa inkubasi tersebut.
-   jumlah yang didapatkan menggambarkan bakteri yang hidup (viable) saja. Sel yang terluka dan tidak mampu menghasilkan tabung positif tidak akan terdeteksi.

MPN dinilai dari perkiraan unit tumbuh (Growth Unit / GU) seperti CFU, bukan dari sel individu. Meskipun begitu baik nilai CFU atau MPN dapat menggambarkan seberapa banyak sel individu yang tersebar dalam sampel. Metode MPN dirancang dan lebih cocok untuk diterapkan pada sampel yang memiliki konsentrasi <100/g atau ml. Oleh karena itu nilai MPN dari sampel yang memiliki populasi mikroorganisme yang tinggi umumnya tidak begitu menggambarkan jumlah mikroorganisme yang sebenarnya. Jika jumlah kombinasi tabung positif tidak sesuai dengan tabel maka sampel harus diuji ulang. Semakin banyak seri tabung maka semakin tinggi akurasinya tetapi juga akan mempertinggi biaya analisa.

Pemilihan media sangat berpengaruh terhadap metode MPN yang dilakukan. Umumnya media yang digunakan mengandung bahan nutrisi khusus untuk pertumbuhan bakteri tertentu. Misalnya dalam mendeteksi faecal coliform dan E coli dapat menggunakan media Brilliant Green Lactose 2% Bile (BGLB) broth. Di dalam media ini mengandung lactose dan garam empedu (bile salt) yang hanya mengizinkan faecal coliform dan E.coli untuk tumbuh. Jika terdapat ketidaksesuaian jenis media dan bakteri yang diinginkan maka metode MPN akan menghitung bukan bakteri yang dituju. Untuk menghitung coliform dapat menggunakan Lauryl Sulphate Tryptose (LST) broth, sedangkan untuk menghitung E.coli diperlukan media EC (Escherichia coli) broth.  Berdasarkan prinsip diatas apakah mungkin metode MPN dapat untuk menghitung jenis bakteri selain jenis-jenis coliform ?

Jadi nilai MPN adalah suatu angka yang menggambarkan hasil yang PALING MUNGKIN.

Aspek peluang dalam metode MPN

Berdasarkan prinsip diatas maka “seharusnya/sebaiknya” jumlah tabung positif pada pengenceran 1/10 > 1/100 > 1/1000 (misalnya 5-3-1) karena setiap pengenceraan mengurangi jumlah mikroorgansime target dan akibatnya semakin kecil kesempatannya untuk membuat tabung menjadi positif. Namun seringkali hasil yang didapat tidak sesuai dengan logika peluang, seperti 5-3-4 yang menghasilkan nilai 210 (lihat tabel dibawah). Bisa saja banyak sel tidak sengaja terambil dan memperbanyak pengenceran selanjutnya atau homogenisasi tidak berlangsung sempurna.
Untuk memahami peranan peluang dalam mendistribusikan sel sehingga menghasilkan tabung positif maka jumlah tabung positif (digaris bawah) pada tabel dicoba untuk dirunut dan diilustrasikan kembali dalam proses penanamannya pada gambar berikut (dianggap bahwa nilai MPN/ml sama dengan sel/ml). Namun perlu diingat, jumlah sel yang terambil tidak selalu seperti itu, semuanya adalah peluang dan angka yang didapat adalah angka paling mungkin.
Perbandingannya dengan plate count

Telah disebutkan diatas bahwa MPN cocok untuk sampel dengan konsentrasi mikroorganisme rendah khususnya dari jenis sampel air, susu, atau makanan terutama yang memiliki partikel-partikel yang larut didalamnya. Partikel-partikel tersebut dimungkinkan mampu mempengaruhi keakuratan perhitungan bakteri jika menggunakan metode penanaman pada cawan petri. Hal ini karena sel bakteri yang terpisah dapat mengelompok pada partikel makanan dan mungkin tidak terpisah pada proses homogenisasi dalam pengenceran bertingkat sehingga saat diplating satu kumpulan tersebut menjadi satu koloni dan membuat data plate count menjadi bias. Metode MPN dapat mengeliminasi kekurangan ini.

PRAKTIKUM V “pour plate
KELOMPOK II
Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui jumlah bakteri pada bahan makanan dengan metode pour plate
Dasar Teori
Bakteri merupakan organism prokariota uniseluler yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop. Cabang ilmu yang mempelajari bakteri adalah bakteriologi.
Ciri-ciri bakteri sb;
Dinding sel tersusun atas mukopolisakarida dan peptidoglikan
Tidak mempunyai membrane inti karena termasuk dalam prokariota
Bakteri ada bergerak dengan flagella namun ada juga yang tidak.
Dalam kondisi yang tidak menguntungkan bakteri mampu membuat endospora untuk bertahan hidup.
Bentuk bakteri secara umum ada 3 yaitu
Bentuk batang/basil
Bentuk bulat/kokus
Bentuk spiral/spirilium
Berdasarkan karakteristik dinding sel melalu system pewarnaan gram bakteri dibedakan menjadi 2
Gram negative: bakteri ungu, bersifat fotoautotrof dan tidak menghasilkan oksigen
Gram Positif: bakteri asam laktat, mampu memfermentasi gula dan menghasilkan asam laktat sebagai hasil akhirnya.
Metode Pour Plate atau biasa disebut metode tuang yaitu cara menghitung bakteri dalam media NA berdasarkan jumlah koloni yang didapat.
Metode Pour Plate/tuang artinya suspense yang terlebih dahulu dimasukan ke wadah dalam hal ini cawan petri, setelah suspense dimasukan maka tuanglah media NA ke cawan petri yang sudah berisi suspense.
Alat dan Bahan
Alat: Vortex, Petridis, Erlenmeyer, dispo/injeksi, incubator, autoclave, mortar, coloni counter, Bunsen, neraca ohause, dan tabung reaksi
Bahan: NaCl fisiologi, aquades steril, NA, alcohol 70% dan bahan makanan dalam hal ini menggunakan ikan sagela.
Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja yang dilalui dalampraktikum ini adalah;
Haluskan bahan makanan/ikan sagela yang akan diuji, kemudian ambil sebanyak 1 gram kemudian masukan kedalam larutan NaCl fisiologis steril sebanyak 10 ml, suspense yang diperoleh dipindahkan ke dalam tabung reaksi steril dan divortex samapai homogen.
Dari suspense yang tersedia diambil sebanyak 1 ml dengan menggunakan dispo dan diencerkan menjadi 1:10 dengan menambahkan NaCl fisiologis 9 ml. selanjutnya dibuat pengenceran 1:10, yaitu mengambil 1 ml dari hasil pengenceran sebelumnya (1:10) dan ditambah NaCl fisiologis sebanyak 9 ml. demikian seterusnya dibuat sampai pada penegnceran ke 3(untuk penelitian ini)
Setelah itu dari masing-masing pengenceran diambil suspense sebanyak 0.5 ml dan dipindahkan ke dalam cawan petri kemudian masukan media NA yang bersuhu kira-kira 45 derajat C kemudian digerakan perlahan-lahan agar suspense tersebut tercampur merata ke dalam media NA
Selanjutnya diinkubasi kedalam incubator dengan suhu 37 derajat C selama 1×24 jam dengan posisi cawan petri dalam keadaan terbalik, mengapa diletakan terbalik karena label berada dibawah cawan petri bukan pada penutupnya, supaya kita bisa menhindari penguapan dari media aar agar kita dapat melihat dengan jelas koloni yang akan dihitung
Hitung jumlah koloni yang terdapat di cawan petri dengan menggunakan coloni counter kemudian hitung jumlah sel bakteri pada bahan makanan dengan menggunakan rumus sb;
Koloni pr ml / per gr = jumlah koloni per cawan x 1
Factor pengenceran
Hasil Pengamatan
Hasil penelitian yang telah kelompok II lakukan sb;
Bakteri yang kita dapat yaitu bakteri Gram Negatif
Dapat dilihat pada gambar dibawah ini
Jumlah koloni yang didapat dari ke 3 cawan petri yang berisi media NA yang sudah di tumbuhi bakteri yaitu
〖10〗^(-1)= 464 Koloni | 〖10〗^(-2)= 386 koloni | 〖10〗^(-3)= 308
Untuk menghitung jumlah bakteri maka harus menggunakan rumus perhitungan bakteri diatas
Karena jumlah koloni lebih dari 300 maka kita mengambil pengenceran tertinggi yaitu 10-3. Hasilnya adalah
308 x 1 = 308000 = 3,1 x 〖10〗^4 CFU
〖10〗^(-3)
Maka jumlah bakteri yang kita dapat adalah 3,1 x 〖10〗^4 CFU
Kesimpulan
Uji kuantitatif bakteri pada Ikan sagela dengan menggunakan metode ‘pour plate’ sudah kita lakukan, metode tuang seperti yang telah diuraikan diatas telah menujukan bahawa perhitungan bakteri dapat dilakukan walau hanya menghitung jumlah koloni yang didapat. Dari hasil pengamatan di atas jumlah bakteri yang kita dapat dari pengenceran tertinggi yaitu 3,1 x 〖10〗^4 CFU
Jawaban Pertanyaan
Pertanyaan:
apa kelebihan dan kekurangan dari metode yang anda gunakan dalam praktikum ini dibanding dengan metode yang lain.
Sebutkan aturan-aturan dalam standar Plate Count (SPC)
Jawaban:
1:
Kelebihan Kelemahan
Hanya sel yang masih hidup yang dihitung
Beberapa jenis mikroba dapat dihitung sekaligus
Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba Hasil perhitungan tidak menunjukkan jumlah sel sebenarnya, karena beberapa sel yang berdekatan mungkin akan membentuk satu koloni
Medium dan kondisi inkubasi yang berbeda mungkin menghasilkan nilai yang berbeda
Mikroba yang ditumbuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan membentuk koloni yang jelas
Memerlukan persiapan dan waktu inkubasi relative lama sehingga pertumbuhan koloni dapat dihitung
2: Aturan-aturan dalam standar plate count (SPC)
Jumlah Koloni 30—300 koloni
Beberapa jumlah koloni yang bergabung dihitung satu koloni
Gabungan satu garis tebal dihitung satu koloni
Jika lebih kecil dari 30 koloni, pengenceran terendah yg dihitung
Jika lebih besar dari 300 koloni, pengenceran tertinggi yg dihitung
Jika antara 30-300 dari dua tingkat pengenceran dan perbandingan antara hasil tertinggi dan terendah dari pengenceran tsb lebih kecil atau = 2, dilaporkan rata-ratanya.
Jika lebih besar dari 2 maka yang dilaporkan adalah hasil yang terkecil.

PRAKTIKUM VI “mpn
KELOMPOK II
Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui jumlah bakteri coliform pada air dengan menggunakan uji penduga metode most probable number (MPN)
Dasar Teori
Pendekatan lain untuk perhitungan bakteri hidup adalah dengan metode MPN. MPN didasarkan pada metode statistik (teori kemungkinan). Metode MPN ini umumnya digunakan untuk menghitung jumlah bakteri pada air khususnya untuk mendeteksi adanya bakteri koliform yang merupakan kontaminan utama sumber air minum.
Alat dan Bahan
Alat: Tabung reaksi, tabung durham, pipet volume, cawan petri,
Bahan: aquades, kaldu nutrisi agar, kapas, sample air, dan lactose broth
Prosedur Kerja
Tahapan kerjanya adalah sb;
Buatlah sample pengenceran dari sample yang akan diperiksa dalam hal ini adalah ikan sagela. Mulai dari 〖10〗^(-1) , 〖10〗^(-2),〖10〗^(-3)
Sediakan 12 tabung reaksi, 3 tabung berisi 9 ml aquades
Steril, 9 tabung berisi 9 ml LB.
Masukan 1 ml sampel kedalam tabung (isi dengan aquades; akan tetapi percobaan kali ini menggunakan larutan NaCl), vortex samapai homogeny, hingga konsentrasi larutan dalam tabung pertama menjadi 〖10〗^(-1).
Ambil 1 ml dari tabung pertama masukan kedalam tabung ke 2. Kocok sampai homogeny, hingga konsentrasi larutan dalam tabung kedua menjadi 〖10〗^(-2) dan buat pengenceran 〖10〗^(-3)
Ambil larutan dari tabung 〖10〗^(-1), sebanyak masing-masing 1 ml untuk 3 tabung (isi LB 9 ml) 〖10〗^(-1), kemudian ambil tabung dari larutan 〖10〗^(-2) sebanyak masing-masing 1 ml untuk 3 tabung 〖10〗^(-2) juga untuk pengenceran 〖10〗^(-3).
Inkubasi dengan suhu 22-37 derajat C selama 2×24 jam
Hitung jumlah tabung reaksi yang positif kemudian hitung nilai MPN dengan menggunakan rumus sb;
MPN sampel = Nilai MPN table x 1
Factor pengenceran ditengah
Hasil Pengamatan
Dari percobaan yang telah dilakukan pada hari pertama, ternyata keesokan harinya tabung reaksi yang berisi suspense dan media LB telah berubah warna menjadi kuning dan mempunyai gelombang yang berarti bahwa tabung tersebut positif ada bakteri.
Pengenceran Hasil pengenceran 10 -1 Hasil pengenceran 10 -2 Hasil pengenceran 10 -3
10 -1 + + +
10 -2 + + +
10 -3 + + +
Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang telah kita lakukan kita dapat menyimpulkan bahwa sampel yaitu ikan sagela ternya positif ada bakterinya, karena terjadi perubahan warna yang signifikan pada tabung reaksi.
Jawaban Pertanyaan
Pertanyaan:
Sebutkan keuntungan dan kelebihan dari metode MPN dibandingkan dengan metode dalam penentuan jumlah bakteri.
Buatlah bagan langkah-langkah pengujian sampel dengan menggunakan metode MPN
Jawaban
1:
Kelebihan Kekurangan
Cukup mudah untuk dilakukan
Dapat menentukan jumlah spesifik mikrobia tertentu dengan menggunakan media yang sesuai
Metode ini dipilih untuk menetukan densitas bakteri coliform fekal Membutuhkan alat gelas dalam jumlah yang banyak
Tidak dapat digunakan dalam pengamatan morfologi dari suatu mikroorganisme
2:
3 Tahapan uji MPN
1. Uji Penduga
10 -1 10-2 10-3
10-1 10-2 10-3
2. uji penguat
3. Uji Biokimia
Uji gula-gula (glukosa, fruktosa, laktosa, maltosa)
Uji IMViC (indol,methyl-red,voges-proskauer dan citrat) untuk:
Membedakan kel bakteri Enterobakteriaceae (Klebsiela, Enterobacter, Salmonella, E. Coli, Proteus, dll)
Contoh: E. Coli IMViC + + – -
Referensi
Keperawatan B angkatan 2009 “Mikrobiologi”
Tim Penyusun “Penuntun Praktiku, Mikrobiologi dan Parasitologi” 2010

PRAKTIKUM VII “uji penguat
Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui bakteri E.coli pada sampel air dengan menggunakan uji penguat metode MPN

Dasar Teori
Uji ini melanjutkan tahap 1 yaitu dengan membuat piaraan agar tulang dari piaraan laktosa cair pada media agar selektif dan diferensial yaitu Eosin Methylene Blue Agar (EMBA).
Alat dan Bahan
Cawan petri
Jarum ose
EMBA

Prosedur Kerja
Jarum ose disterilkan terlebih dahulu
Ambil sampel pada uji penduga yang positif
Gosreskan pada media EMBA dengan goresan sinambung
Inkubasi selama 24 jam pada suhu 37 derajat C
Apabila koloni bakteri berwarna hijau metalik dinyatakan positif E.coli

Hasil Pengamatan
Dari hasil pengamatan terbukti bahwa media EMBA tampak berwarna hijau metalik lihat gambar dibawah ini

Kesimpulan
Dari hasil pengamatan kita, diketahui bahwa media EMBA terbukti ada goresan yang tampak berwarna hijau metalik, maka bisa dipastikan bahwa terdapat bakteri E.coli

Jawaban Pertanyaan
1. Sensivitas bakteri adalah kepekaan kuman terhadap antibiotika dari bahan klinik.
Beberapa ketentuan/aturan dalam pengujian sensivitas bakteri menurut Norrel.
Adapun uji difusi cakram menurut Norell (1996) adalah sebagai berikut:
1. Dipergunakan 5 lembar kertas saring yang dicelupkan pada suspensi lalu diletakkan pada lempengan agar yang mengandung biakan bakteri.
2. Setelah itu dilakukan inkubasi selama 16-18 jam pada suhu 37ºC, maka akan terlihat zona hambatan (zones of inhibition) di sekeliling cakram dimana cakram ini adalah kertas saring yang telah dicelupkan pada suspensi
3. Uji daya hambat biasanya dilakukan dengan petri berukuran 100 mm dan tidak lebih dari 5-6 disk anti bakteri pada setiap cawan Petri. Memberi jarak yang benar pada disk adalah sangat penting untuk mencegah zona hambat yang tumpang tindih.
4. Hambatan akan terlihat sebagai daerah yang tidak memperlihatkan adanya pertumbuhan bakteri di sekitar cakram. Apabila jarak antara cakram dengan bakteri 14 mm atau lebih, maka dapat dinyatakan bahwa bakteri peka terhadap suspensi sehingga bisa dikatakan bahwa suspensi dapat menghambat pertumbuhan bakteri, tetapi apabila jarak antara cakram dengan koloni bakteri bakteri 11 mm atau kurang maka dapat dikatakan bahwa bakteri resisten terhadap suspensi atau dengan kata lain suspensi tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri. 
Referensi: Alaerts, G. dan Santika, S.S., 1987. Metode Penelitian Air, Penerbit Usaha Nasional, Surabaya
Tim Penyusun “Penuntun Praktiku, Mikrobiologi dan Parasitologi” 2010

PRAKTIKUM “sensivitas bakteri
KELOMPOK II

Tujuan Praktikum
Untuk menentukan sensivitas tidaknya suatu bakteri terhadap berbagai macam zat antimikroba

Dasar Teori
Telah diketahui bahwa ekstrak daun Psidium guajava L. mempunyai daya antidiare. Karena infeksi Salmonella typhimurium merupakan salah satu penyebab diare, maka perlu diuji kepekaan kuman ini terhadap ekstrak daun Psidium guajava L.
Penyakit infeksi merupakan penyakit yang banyak diderita masyarakat Indonesia sejak dulu, diantaranya adalah infeksi usus (diare). Diare adalah suatu gejala klinis dari gangguan pencernaan (usus) yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya dan berulang-ulang yang. disertai adanya perubahan bentuk dan konsistensi feses menjadi lembek atau cair.

Alat dan Bahan
Alat: cawan petri, pembakar bunsen, beaker gelas, gelas ukur, gelas pengaduk, pinset dan penggaris
Bahan: kertas cakram, inkubator, NA, aquades dan bahan uji (Ektra Jahe)

Prosedur Kerja
Inokulasi jenis bakteri yang akan diuji kedalam cawan petri yang berisi media NA cair yang bersuhu 45 derajat C lalu diratakan agar suspensi tercampur dengan NA.
Ambil kertas cakram dan dicelupkan kebahan uji(jahe)
Letakan yang telah direndam tadi pada lempeng agar sebanyak 3 buah dan perhatikan jarak antara cakram cukup jauh.
Lakukan inkubasi selama 24-48 jam dengan 37 derajat C.
Amati pertumbuhan koloni pada lempeng agar, dengan mengukur diameter bagian yang tidak ditumbuhi bakteri sekitar kerts cakram
Tentukan apakah jenis bakteri tersebut peka atau resisten

Hasil Pengamatan
Dari pengamatan yang telah kami lakukan, ternyata kertas cakram tersebut tidak ditumbuhi oleh bakteri. Karena kertas cakram tidak ditumbuhi oleh bakteri maka kita tidak dapat menyatakan dia peka atau resistensi

Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, terbukti bahwa bahan uji dalam hal ini adalah ektra dari jahe ternyata tidak ditumbuhi bakteri kertas cakramnya. Jadi ektra dari jahe termasuk dalam zat antimikroorganisme/mikroba

Jawaban Pertanyaan

Pertanyaan:
Apa yang dimaksud dengan sensivitas bakteri?
Sebutkan beberapa ketentuan/aturan dalam pengujian sensivitas bakteri menurut norel

Jawaban:
Sensivitas bakteri adalah kepekaan kuman atau mikroorganisme terhadap antibiotic dari bahan klinik/medis
1. Dipergunakan 5 lembar kertas saring yang dicelupkan pada suspensi lalu diletakkan pada lempengan agar yang mengandung biakan bakteri.
2. Setelah itu dilakukan inkubasi selama 16-18 jam pada suhu 37ºC, maka akan terlihat zona hambatan (zones of inhibition) di sekeliling cakram dimana cakram ini adalah kertas saring yang telah dicelupkan pada suspensi
3. Uji daya hambat biasanya dilakukan dengan petri berukuran 100 mm dan tidak lebih dari 5-6 disk anti bakteri pada setiap cawan Petri. Memberi jarak yang benar pada disk adalah sangat penting untuk mencegah zona hambat yang tumpang tindih.
4. Hambatan akan terlihat sebagai daerah yang tidak memperlihatkan adanya pertumbuhan bakteri di sekitar cakram. Apabila jarak antara cakram dengan bakteri 14 mm atau lebih, maka dapat dinyatakan bahwa bakteri peka terhadap suspensi sehingga bisa dikatakan bahwa suspensi dapat menghambat pertumbuhan bakteri, tetapi apabila jarak antara cakram dengan koloni bakteri bakteri 11 mm atau kurang maka dapat dikatakan bahwa bakteri resisten terhadap suspensi atau dengan kata lain suspensi tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri.

I. Referensi
Ajizah A. 1998. Sensitivitas Enteropathogenic Escherichia coli terhadap Daun
Psidium guajava L. secara in Vitro. FKIP Unlam Banjarmasin (tidak
dipublikasikan).
Ripani Musyaffa di Test Sensitivitas Bakteri
Tim Penyusun “Penuntun Praktikum Mikrobiologi dan Parasitologi” 2010

PRAKTIKUM IX “sediaan mikroskopik”
KELOMPOK II

Tujuan Praktikum
Mempelajari cara menyiapkan sediaan mikroskopik dengan baik, sebagai persyaratan untuk berbagai pearnaan

Dasar Teori
Istilah mikroskop berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata micron yang berarti kecil dan scopos yang artinya tujuan. Dari dua pengertian tersebut, mikroskop dapat diartikan sebagai alat yang dibuat atau dipergunakan untuk melihat secara detail obyek yang terlalu kecil apabila dilihat oleh mata telanjang dalam jarak yang dekat. Ilmu yang mempelajari benda kecil dengan menggunakan alat ini disebut mikroskopi, dan kata mikroskopik berarti sangat kecil, tidak mudah terlihat oleh mata.
Mikroskop saat ini sudah berada dalam era teknologi tinggi dan perananya makin sangat berguna dalam bidang medis terutama dalam miroorganisme.
Untuk menggunakan mikroskop terlebih dahulu kita akan melalu langkah-langkah yang akan dijelaskan dalam prosedur kerja.
Pewarnaan mikroba sangat bergantung dengan sediaan mikroskopik ini, maka dari itu perlu ketelitian untuk medapat hasil yang diharapkan.

Alat dan Bahan
Alat: objek gelas, pembakar bunses, dan pipet tetes. Serta jarum inokulasi.
Bahan: biakan bakteri muda (24-48 jam), alcohol, dan kapas,

Prosedur Kerja
Bersihkan objek gelas hingga bebas lemak dengan kapas beralkohol
Teteskan satu tetes aquades dengan menggunakan pipet tetes pada objek gelas tersebut.
Pijar jarum inokulase dan didinginkan
ambil biakan bakteri dengan jarum inokulasi tersebut, kemudian campurkan dengan aquades pada objek gelas, sebarkan suspense tersebut sehingga menjadi sediaan yang tipis dalam bentuk lingkaran kira-kira sebesar uang logam 25 rupiah
keringkan sedian tersebut diudara
rekatkanlah sediaan tersebut dengan melewatkan objek gelas bagian bawahnya diatas api sebanyak tiga kali “fiksasi panas”.
Selanjutkan gunakan sediaan mikroskopik untuk proses pewarnaan.

Hasil Pengamatan
Dari kegiatan yang sudah kami lakukan sesuai prosedur kerja diatas maka hasil yang kita dapati adalah mendapat sediaan mikroskopik yang steril artinya siap digunakan untuk langkah selanjutnya yaitu pewarnaan gram.

Kesimpulan
Sesuai hasil pengamatan maka kami mengambil sebuah simpulan bahwa untuk menggunakan mikroskop dalam penelitian pewarnaan gram kita harus menyediakan mikroskopik dengan baik agar hasilnya juga baik/sesuai dengan harapan

Jawaban Pertanyaan
Pertanyaan: apa yang dimaksud dengan fiksasi panas dan apa tujuanya?
Jawaban: fiksasi panas adalan pemanasan kaca objek dengan menggunakan lampu bunse sebagai dasar pemanasan dana hanya dilewatkan maksimal 3 kali. Tujuanya adalah agar bakteri yang sudah tercampur dengan aquades dapat menempel pada kaca objek tersebut dan siap untuk diteliti warnaya setelah melewati proses selanjutnya.
Referensi
Tiner, John Hudson, Exploring the History of Medicine, Arkansas: MBs Inc, 2005
Dwidjoseputro, D. 1993. Dasar-Dasar Mikrobiologi, Penerbit
Djambatan, Jakarta
Tim Penyusun “Penuntun Praktikum Mikrobiologi dan Parasitologi” 2010

PRAKTIKUM X “pewarnaan gram”
KELOMPOK II
Tujuan Praktikum
Mengetahui perbedaan bakteri gram positif dengan gram negative

Dasar Teori
Pewarnaan gram masih merupakan salah satu prosedur yang paling banyak digunakan untuk mencirikan banyak bakteri. Terutama amat berarti dii laborotarium diagnostic rumah sakit karena informasi yang diperoleh dari pengamatan specimen yang diwarnai dengan pewarnaan gram dengan cepat dapat memberi petunjuk akan organisme penyebab suatu infeksi.
Pewarnaan gram merupakan pewarnaan diferensial yang membedakan bakteri dalam dua kelompok yaitu bakteri Gram positif yang mengikat zat warna pertama, dan bakteri Gram negative yang melepas zat warna pertama dan mengikat zat warna kedua.
Alat dan Bahan
Alcohol 96 %
Aquades
Lugol
Ungu violet
Safranin

Prosedur Kerja
Tetesi sediaan 2-3 tetes ungu violet, larutan zat warna harus menutupi seluruh permukaan sediaan biarkan selama 1 menit
Bilaslah sediaan dengan air kemudian keringkan diudara atau menggunakan kertas isap
tetesi dengan larutan lugol dan biarkan selama 2 menit, cuci dengan menggunakan kertas isap
Kemudian cuci dengan larutan pelutur selama 30 detik.
Beri larutan zat penutup (safranin) selama 30 detik, cuci dengan air lalu keringkan diudara
Amati sediaan dibawah mikroskop dengan menggunakan lensa objektif dengan perbesar besar yang terlebih dulu sediaan ditetesi minyak imersi
Hasil Pengamatan
Dari hasil percobaan yang telah kami lakukan dapat diketahui bahwa bakteri yang adalah bakteri positif seperti pada gambar dibawah ini

Kesimpulan
Pewarnaan gram terbagi jadi 2 yaitu gram negative dan positif. Gram negative mempunyai warna merah karena peptidoglikannya tipis sedangkan pada gram positif peptidoglekannya tebal.
Dari hasil pengamatan diatas kami kelompok 2 mendapat bakteri gram positif dengan warna ungu seperti tertera pada gambar di hasil pengamatan
Jawaban Pertanyaan
Pertanyaan:
Sebutkan beberapa factor yang mempengaruhi pewarnaan
Buatlah ikhtisar pengecetan gram
Jelaskan 2 mekanisme pewarnaan mikroba
Jawaban:
1.) Fiksasi : – meletakkan sel pd gelas obyek
-membunuh mikroba yang mati lebih mudah diwarnai
Peluntur warna :
- Melunturkan warna yg sudah diwarnai agar menghslkan warna kontras dan membedakan kel mikroba(alkohol, KOH, HCl)
Subtrat :
- Tergantung kand sel: KH, prot, lemak dan asam nukleat
– Sel asidofilik, sel basidofilik dan sudanofilik.
Intensifikasi pewarnaan :
- Mempercepat pewarnaan mikroba
- penambahan mordan
2.) Ikhtisar pengecetan gram yaitu di mana Mekanisme pewarnaan Gram itu, dikelompokkan terhadap cat tersebut. Gram positif akan mempertahankan zat pewarna kristal violet dan karenanya akan tampak berwarna ungu tua di bawah mikroskop. Adapun bakteri gram negatif akan kehilangan zat pewarna kristal violet setelah dicuci dengan alkohol, dan sewaktu diberi zat pewarna tandingannya yaitu dengan zat pewarna air fuchsin atau safranin akan tampak berwarna merah
3.) 2 mekanisme pewarnaan mikroba yaitu:
Pewarnaan Sederhana: dengan satu warna
Ex: Metylin blue
Pewarnaan Bertingkat: dengan beberapa warna
Ex: Pewarnaan Gram, struktur sel,tahan asam

PRAKTIKUM XI “media tumbuh jamur”
KELOMPOK II
Tujuan Praktikum
Mempelajari morfologi jamur pada media agar
Dasar Teori
Jamur merupakan tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil, sehingga tidak dapat berfotosintesa
Jamur tidak mempunyai klorofil, oleh karena itu hidupnya sebagai saprofit atau sebagai parasit. Hidupnya bersifat Heterotrof dapat parasit atau saprofit. Jamur ada yang bersel satu (uniseluler) dan ada yang bersel banyak (multiseluler), contoh yang bersel satu misalnya ragi(Saccharonycetes). Jamur yang bersel banyak tubuhnya terdiri atas benang-benang yang disebut Hifa. Hifa yang bercabang-cabang membentuk seperti jaring-jaring yang disebut Miselium. Dinding sel atau dinding Hifa pada umumnya terdiri atas selulosa, tetapi oada jamur tingkat tinggi dinding itu terdiri atas Kitin. Inti jamur bersifat eukaryon, yaitu inti yang berdinding dan mempunyai nukleolus.

Alat dan Bahan
Alat: mikroskop, objek gelas dan penutup gelas, jarum inokulasi, pipet tetes, inkubator,
Bahan : roti jamur

Prosedur Kerja
  • Sediakan lempeng media PDA sebanyak dua buah untuk isolasi jamur dari udara dan roti
  • untuk jamur udara, bukalah cawan PDA diatas meja selama 1 jam kemudian tutup kembali
  • untuk jamur bahan makanan, haluskan bahan makanan berupa roti yang sudah berjamur kemudian taburkan pada cawan PDA, lalu tutup kembali.
  • inkubasi pada suhu kamar atau masukan ke dalam incubator dengan suhu 22-33 derjat C, selama 3 x 24 jam
  • amati setiap hari koloni jamur yang tumbuh
  • identifikasi setipa koloni yang tumbuh dengan melihat warna koloni dan bentuk dibawah mikroskop
  • ambil objek gelas dan gelas penutup yang sudah dibersihkan, teteskan air diatas objek gelas tersebut, kemudian ambil sedikit koloni jamur dengan menggunakan jarum inokulasi, (usahakan bagian sporra dan hifa terambil)
  • gambarlah mofologi penting untuk semua jamur yang diperiksa (miselium, ada/tidaknya sekat, spora dan bagian lainya)
Kesimpulan
Jamur merupakan tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil, sehingga tidak dapat berfotosintesa.
Dari hasil penilitian yang kami lakukan kami dapat melihat bahwa jamur miselium atau banyak serabut seperti yang tertera pada hasil penelitian diatas, baik pada jamur yang berada diudara maupun pada roti yang suah berjamur
Jawaban Pertanyaan
1: beberapa aspek yang harus di perhatikan dalam pengamatan morfologi jamur yaitu:
Jamur merupakan tumbuhaan yang tidak mempunyai krolofil, sehingga tidak dapat berfotosintesa.
Hidupnya bersifat heterotrof dapat parasif atau saprofit .
Jamur ada yang bersel satu ( uniseluler ) dan ada yang bersel banyak (multiseluler), contoh yang bersatu misalnya ragi (saccharommycetes)
Jamur yang bersel banyak tubuhnya terdiri atas benang-benang yang di sebut hifa. Hifa bercabang –cabang membentuk seperti jaring-jaring yang disebut miselium.
Diding sel atau diding hifa pada umumnya terdiri atas selulosa, tetapi pada jamur tingakat tinggi diding terdiri atas kitin.
Inti jamur bersifat eukaryon, yaitu berdinding dan mempunyai nukleolus.
Habitat di tempat-tempat basah (lembab), mengandung zat organik, sedikit asam, dan kurang cahaya matahari.
Berkembang baik dengan acara vegetatif dan generatif.
vegetatif (aseksual): dengan spora, tunas (budding) misalnya saccharomyces konindia misalnya pinicilium, aspergillus
generatif (seksual): dengan konyugasi, misalnya rhizopus. Dengan askus, misalnya saccharomyces basidium, misalnya volvariella volvacea (jamur merang).
2: Yang dimaksud dengan pengamatan biakan jamur dengan metode Henric`s slide culture dan hanging drop preparation yaitu:
Menggunakan untuk melihat bentuk dari mikroba (mikroskopik dari jamur) dan bertujuan utuk mengamati sel. Pengamatannya dilakukan dengan preparatulas dengan tekhnik ini hasil pengamatan akan langsung terlihat.

Referensi
Hans, G.S dan Karin, S. 1984, Mikrobiologi Umum, (terjemahan)Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Toekidjo.Ir.1989. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Andi Offset. Yogyakarta.

Triharso. 1994. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. University Gadjah Mada. Yogyakarta.

Alexopoules, C.J. 1962. Introductory Mycology. New york: John Wiley and Sons, Inc

Tim Penyusun “Penuntun Praktikum Mikrobiologi dan Parasitologi” 2010


Komentarnya yaa gan...,!joint juga diblog saya



Title : Laporan praktikum mikrobiologi - Metode MPN
Description : Laporan praktikum mikrobiologi - Metode MPN Metode MPN biasanya biasanya dilakukan untuk menghitu...

berlangganan artikel via email